Kali ini saya akan mengutip sub-bab dari bab "Tiga relatias" dari buku Antologi Tao of Islam.
Dari kutipan tersebut bercerita bahwa setiap manusia memilki manifestasi sifat-sifat Allah. Potensi seorang manusia adalah tidak terbatas. Manusia digolongkan menurut tingkat pemenuhan tujuan hidup (yaitu kesempurnaan). Orang-orang yang tidak mencapai kesempurnaan disbut manusia hewani. Dalam istilah Cina, "seorang "manusia kecil" tidaklah sama seperti seorang ""manusia besar"".
Kita sebagai manusia perlu bercermin apakah kita sudah menjadi "manusia" ataukah belum? apa kita sudah menuju kesempurnaan yang diinginkan oleh tuhan kita--Allah--atakah belum? mari bersama kita bercermin.
[:::::]
Ada dua perbedaan mendasar antara manusia dengan semua makhluk lainya. Yang pertama adalah bahwa manusia merupakan totalitas, sementara makhluk lainya adalah bagian dari totalitas. Manusia memanifestasikan seluruh sifat Makrokosmos, sementara makhluk lainya (makrokosmos) memanifestasikan sebagian sifat dengan mengesampingkan sifat yang lainya. Manusia diciptakan dari citra Allah, sementara makhluk lainnya hanyalah sebagian bentuk konfigurasi kualitas-kualitas Allah.
Perbedaan mendasar kedua adalah bahwa makhluk-makhluk lainnya mempunyai jalur-jalur yang pasri dan tidak pernah menyimpang darinya--jalur-jalur dibatasi oleh berbagai kualitas terbatas yang dimanifestasikannya. Sebaliknya, manusia tidak mempunyai hakikat yang pasti karena mereka memanifestasikan keseluruhan. Karena itu, manusia adalah misteri. Hakikat utama manusia tidak diketahui. Mereka harus mengalami proses yang membantu mereka menjadi apa yang seharusnya.
Pada mulanya, semua manusia memiliki potensialitas tak terbatas yang sama karena mereka adalah bentuk-bentuk Ilahi. Nasib utama dari setiap manusia "dibatasi" hanya oleh sumber bentuk Ilahi, yakni bahwa manusia didefinisikan oleh fakta bahwa mereka terbuka lebar-lebar menuju Zat Maha Tak Terbatas.
Dalam seluruh perspekrif kehidupan dan pemikiran Ilsam, manusia digolongkan menurut tingkat pemenuhan tujuan kehidupan. Dalam tradisi kearifan (hikmah), tujuan hidup manusia sering disebut "kesempurnaan". Orang-orang yang tidak mencapai kesempurnaan disebutnya sebagai "manusia hewani".
"Sesungguhnya kesempurnaan manusia adalah bagian dari eksistensinya yang diinginkan Allah"
Kesempurnaan manusia biasanya diidentifikasi dengan kedudukan khalifah Allah, yang pertama adalah Adam, objek dari firman Allah (QS 2: 30). Keutamaan khusus manusia ialah bahwa dia diajari semua nama Allah, atau bertindak sebagai lokus manifestasi bagi nama Allah. Ibn Al-'Arabi menegaskan bahwa hanya sifat sebagai "bentuk Allah" saja yang mendefinisikan manusia hakiki dan sejati.
Semua manusia, sebagai anak-anak Adam, memanifestasikan bentuk Allah. Tapi sebagian manusia memanifestasikannnya dalam aktualitasnya yang sempurna harmoni dan ekuilibrium atau keseimbangannya yang penuh.
[:::::]
Dari kutipan tersebut bercerita bahwa setiap manusia memilki manifestasi sifat-sifat Allah. Potensi seorang manusia adalah tidak terbatas. Manusia digolongkan menurut tingkat pemenuhan tujuan hidup (yaitu kesempurnaan). Orang-orang yang tidak mencapai kesempurnaan disbut manusia hewani. Dalam istilah Cina, "seorang "manusia kecil" tidaklah sama seperti seorang ""manusia besar"".
Kita sebagai manusia perlu bercermin apakah kita sudah menjadi "manusia" ataukah belum? apa kita sudah menuju kesempurnaan yang diinginkan oleh tuhan kita--Allah--atakah belum? mari bersama kita bercermin.